KANGKUNG
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman semusim yang merupakan
tanaman herba (tidak berkayu) menyelesaikan siklus hidupnya (dari biji kembali
ke biji) dalam satu musim tumbuh.Pertumbuhan pucuk dimulai setelah
perkecambahan biji dan terus berlanjut dalam pola yang hampir seragam (jika
faktor lingkungan tidak menjadi pembatas) sampai fase pembungaan yang diikuti
oleh pembentukan buah dan produksi biji. (Zulkarnain, 2010)
Berdasarkan jenis krop yang
digunakan holtikultura mencakup bidang ilmu buah-buahan (pomology), sayuran
(olericulture), bunga dan tanaman hias (floriculture), serta pertanaman
(landscape horticulture). Pada umumnya produk hortikultura dikonsumsi dalam
bentuk segar, sehingga air sangat menentukan kualitasnya. (Ashari, 2000)
Salah satu tanaman yang banyak dimanfaatkan oleh orang Indonesia untuk keperluan sayuran adalah tanaman kangkung darat. Beberapa orang yang telah mengkonsumsi sayuran kangkung darat tersebut mengaku merasakan kantuk.Berdasarkan literatur, dalam 100 gram tanaman kangkung mengandung 458,00 gram Kalium dan 49,00 gram Natrium. Dimana Kalium dan Natrium ini merupakan persenyawaan garam bromida. Senyawa-senyawa ini bekerja sebagai obat tidur berdasarkan sifatnya yang dapat menekan susunan saraf pusat (Anggara, 2009)
Produksi kangkung di lapang dapat
mencapai 50000 sampai 60.000 kg per hektar. Di Indonesia, percobaan lapang
untuk satu musim tanam telah banyak dilakukan dengan hasil yang sangat beragam
(Harjadi dan Ketty, 2010)
Departemen Pertanian telah melepas
12 varietas kangkung dalam periode 1980-2007, masingmasing diberi nama Sutera,
Grand-1, Bisi, Grand-2, LP-1, Aini, Serimpi, Gomong, Niagara Uno, Niagara Due,
Pilihan, dan Monalisa (Direktorat Jenderal Hortikultura 2007). Konsumsi
kangkung kemungkinan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran
masyarakat terhadap makanan yang bergizi. Kandungan gizi kangkung cukup tinggi,
terutama vitamin A, vitamin C, zat besi, kalsium, potasium, dan fosfor
(Sofiari, 2004)
Jenis kangkung yang enak dimakan dan terkenal antara lain
kangkung darat (Ipomoea reptans Poir.)
dan kangkung air (Ipomoea aquatica Forsk.)
Kangkung darat berdaun panjang, berujung runcing, dan bewarna hijau
keputih-putihan. Sementara jenis kangkung air berdaun panjang tetapi ujungnya
agak tumpul dan bewarna hijau kelam. Varietas kangkung darat diantaranya sutra
dan bangkok. Adapun varietas kangkung air diantaranya sukabumi dan biru. (Sunarjono,
2009)
Kangkung darat (Ipomea
reptans) varitas varietas Sutera merupakan varietas kangkung introduksi
dari Hawai, yang dilepas oleh Kementerian Pertanian pada Tahun 1980 setelah
melalui pengujian oleh Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa). Kandungan
gizi kangkung Sutera cukup tinggi terutama vitamin A, vitamin C, zat Besi,
Kalsium, Potasium dan Fosfor. (Rahayu
dkk, 2009)
Kangkung
mempunyai kandungan Vitamin A, Vitamin B, Vitamin C, Protein, Kalsium, Fosfor,
Besi, Karoten, Hentrikontan dan Sitosterol. Kangkung juga berfungsi sebagai
anti racun dan mengobati berbagai gangguan kesehatan. (Supriati dan Ersi, 2010)
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini
adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi tanaman
kangkung darat (Ipomoea reptans Poir.) pada beberapa dosis pupuk urea.
Kegunaan
Percobaan
Sebagai salah satu syarat untuk dapat
mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Dasar Agronomi Program Studi Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai bahan informasi
bagi pihak yang membutuhkan.
Komentar
Posting Komentar